Selamat Datang. silahkan login
 
 
2012-12-22

SEBUAH KURSI (LEADERSHIP)

BY RM. H. ARI MAULANA PUTRA, M. SI

(SEKRETARIS MPC PEMUDA PANCASILA KOTA LUBUKLINGGAU-SUMATERA SELATAN)

“ Cuma sekedar benda mati namun disukai banyak orang untuk meraihnya, tidak abadi namun banyak pertumpahan darah, bisa baik bisa juga buruk tergantung yang menjadi tuannya, menikmati kursi kepemimpinan di era krisis keteladanan, spektakuler dan penuh tantangan“

 

 

Ia hanyalah sekumpulan besi yang disatukan dari beberapa komponen seperti baut, mur dan dibalut rapi dengan plastik dengan ditambahkan selipan busa empuk yang berada dibalik meja kerja. Terkadang beberapa bagian bawahnya berkarat dan menguning seolah-olah tampak seperti lumutan dan usang. Namun mengapa kursi jelek ini selalu menjadi rebutan setiap orang meskipun banyak darah, banyak kemunafikan, banyak kejahatan, banyak kemashalatan yang terjadi dengan sepele saja padahal itu semua hanya sementara? Jelek namun banyak yang suka!

Ia memang cuma sebuah benda yang berfungsi sebagai tempat duduk sambil menikmati sejuknya ac di dalam ruangan kerja, namun lebih dari itu benda ini dapat mengatur seabrek stratak ( istilah dalam HMI ) dan manajemen dalam suatu organisasi kecil sampai ke tingkat negara sekalipun. Sungguh nikmat menduduki kursi tanpa remote control ini yang dapat mempengaruhi orang-orang untuk melaksanakan keinginan-keinginan kita secara pribadi, keluarga maupun golongan. Ada sisi positif dan negatifnya dalam kursi ini, tergantung pada tuan kursinya jika pandai mengatur nafsunya agar tidak terjebak dalam “The Game” sehingga membuat kursi itu menjadi sakit dan disebut “ Kursi Pesakitan “. Bermacam-macam kursi dibuat manusia untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dari kursi raja, presiden, gubernur, bupati, walikota, camat hingga lurah. Kursi ini mampu menentukan kebijakan-kebijakan penting untuk mengolah apa saja yang dapat diolah, namun dapat juga mengolah yang mengolahnya itulah terjadi senjata makan tuan.

Kita sebut saja “ The Leader Chairs “ yang selalu saja menjadi permasalahan di negeri ini dan banyak menimbulkan adiksi dalam memperebutkan benda di balik meja ini. Berbagai cara termasuk 3H ( Halal Haram Hantam ) wajib digunakan dalam berbagai metodologi dan praktek berperang secara politik dan hukum. Terkadang hesitasi pun tak mampu dielakkan oleh si Tuan Kursi karena persaingan yang begitu ketat dan sengit sehingga lawan-lawan yang bagaikan srigala pemangsa selalu mencari kesalahan Tuan ini untuk dapat menduduki kursi panas. Kursi kepemimpinan saat ini hanyalah sebuah rekayasa politik yang sedemikian rupanya dalam mensejahterakan masyarakat banyak. Bertahun-tahun bangsa Indonesia berganti presiden namun rakyat selalu menjadi tikus percobaan yang gagal tanpa jaminan kehidupan yang lebih baik, memang tak banyak namun ada. Sebuah ide cemerlang dalam membangun tanpa didasari iman dan agama yang kuat akan dapat mudah di libas oleh kepentingan –kepentingan para pialang dunia politik. Keberhasilan sebuah kepemimpinan sangat ditentukan oleh kredibilitas moral dan kemampuan teknis yang cukup, yang dimiliki oleh para pemimpin. Disamping itu kepemimpinannya harus mempunyai dukungan yang kuat dari rakyat dan dari orang-orang yang bekerjasama dengan dirinya, jika hal tersebut terjadi maka akan tegak dan berhasil sebuah kepemimpinan sejati. Banyak pemimpin saat ini tidak memahami arti pemimpin, bahkan menjadi pemimpi, dikarenakan terlalu disibukkan dengan urusan duniawi tanpa dasar konsep keimanan dan penghayatan kepemimpinan yang jelas-jelas tidak pada kerangkanya.

Di dalam Islam kita sangat mengenal kepemimpinan Muhammad SAW yang menjadi suri tauladan kita sebagai manusia akhir zaman, dan agama lain pun berangsur-angsur mengakui itu. Semua manusia mengetahui bahwasahnya Rasullullah adalah Leader terbaik yang pernah ada di dunia ini. “Muhammad is the most successful of all Prophest and religious personalities” ( The Encyclopaedia Britanicana ). Menjadi seorang pemimpin bagi para stakeholdernya harus benar-benar memahami dan memenuhi kebutuhan utama, misi dan visi harus jelas dan terarah, bukan yang asal jadi sehingga hanya menimbulkan ABS ( Asal Bapak Senang ). Keselarasan dalam memimpin pun mesti dipahami agar sistem yang bekerja dapat sesuai dengan visi yang digariskan. Pemimpin juga harus bisa memberdayakan para bawahannya dengan committed yang kuat sehingga tanggung jawab dan otoritas dapat dimengerti dan didelegasikan. Menjadi panutan dan suri tauladan bagi rakyat dan bangsa juga merupakan konsep etika seorang Leader yang akan memimpin sebuah ajakan menuju kemakmuran.

Menurut Warren Bennis bahwa sifat-sifat dasar kepemimpinan adalah
1. Visioner ( Guiding vision ) dengan sifat dasarnya Anda mempunyai ide yang jelas tentang apa yang anda inginkan-secara profesional atau pribadi-dan punya kekuatan untuk bertahan ketika mengalami kemunduran atau kegagalan.

2. Berkemauan Kuat ( Passion ) dengan sifat dasarnya Anda mencintai apa yang Anda kerjakan Anda mempunyai kesungguhan yang luar biasa dalam menjalani hidup, dikombinasikan dengan kesungguhan dalam bekerja, menjalani profesi dan bertindak.

3. Integritas ( integrity ) dengan sifat dasarnya Integritas Anda diperoleh dari pengetahuan sendiri dan kedewasaan, Anda tahu kekuatan dan kelemahan Anda, teguh memegang prinsip, dan belajar dari pengalaman bagaimana belajar dari dan bekerja dengan orang lain.

4. Amanah ( trust ) dengan sifat dasarnya Anda memperoleh kepercayaan dari orang lain.

5. Rasa Ingin Tahu ( Curiossity ) dengan sifat dasarnya Anda ingin tahu segala hal dan ingin belajar sebanyak mungkin.

6. Berani ( courage ) dengan sifat dasarnya Anda berani mengambil resiko, bereksperimen dan mencoba hal-hal baru.

Tidak ada didunia ini seorang yang lahir langsung menjadi seorang pemimpin, memimpin diri sendiri pun kita harus belajar mulai dari hal-hal kecil antara lain dengan berdisiplin, sabar, bijaksana, adil, dan amanah. Memang mudah sekali untuk berangan-angan merebut sebuah kursi yang sebelumnya sudah ada pemiliknya, namun tidak semudah itu Bung! semua ada mekanisme, sistem dan aturan main yang berlaku atas dasar permainan sandiwara diatas. Menghadapi Pemilu Legislatif dan Pilpres 2009 ini banyak sekali wajah-wajah baru dengan semangat baru yang rakyat belum tahu dengan integritas dan wawasannya dalam niat membangun, apakah hanya bermodalkan finansial saja ( namun perlu diingat bahwa yang dibawa ke kursi dewan atau kursi presiden adalah mampukah saudara membawa permasalahan rakyat untuk diselesaikan dengan adil dan bijaksana?), tak luput juga sebagian besar wajah pemuda dan mahasiswa terpampang jelas disetiap spanduk, baliho, stiker dan kalender ikut bermain dalam kancah politik praktis meskipun sebelumnya mereka belum berpengalaman dalam politik praktis, walau Indonesia terkenal dengan “Politisi Dadakan” Dari itu semua tetap harus kita tanggapi dengan Positif Thinking, jangan mendeskripsikan mereka-mereka selaku penerus demokrasi yang semakin membaik dan jujur. Kita juga mengenal adanya Otodidak Politik yang terjadi beberapa tahun terakhir ini sampai tingkat senayan.

Kita sebagai bangsa yang besar dengan 220 juta penduduk dan provinsi Sumatera Selatan ini +/- 8 juta penduduk ( hampir menyamai penduduk Sumatera Utara +/- 8,7) sangat merindukan pemimpin yang benar-benar pemimpin, bukan yang hanya sekedar tebar janji senyum manis ( trend politis kekinian ), banyak pemimpin yang berjuang hanya untuk kemegahan, peluang ( opportunity ) untuk menambah kekayaan semata dengan apapun caranya, bukan pemimpin yang bertanggung jawab dunia akhirat. Pemimpin yang tidak bisa tidur karena masih ada warganya yang kelaparan, yang tidak bisa bepergian keluar negeri karena masih banyak sekolah-sekolah yang rusak berat, yang tidak terlalu nikmat duduk di dalam mobil dinasnya yang mewah karena masih banyak rakyat dengan gizi buruk, yang tidak bisa bersenda gurau dengan para kroninya karena harus membantu korban longsor di daerahnya, yang tidak bisa menikmati sejuknya ac di ruangan karena masih ada rakyatnya yang kepanasan menganggur dan mencari pekerjaan. Namun terkadang pemimpin kita tidak mau mengambil hikmah dari semua peristiwa yang merupakan tanggung jawabnya sebagai seorang “ Tangan Rakyat “ atau mungkin karena keangkuhan dirinya atau kebodohan dirinya. Bermilyar-milyar bahkan triliyunan rupiah bisa untuk membeli sebuah kursi Leader saat ini, tapi setelahnya berhutang pada “Donatur Kampanye” hingga Suara Rakyat yang diperdagangkan. Sesungguhnya jabatan hanyalah sementara dan punah serta akan sangat tidak bermanfaat ketika digunakan untuk memperluas kekuasaan, kekayaan dan kenistaan.
Didalam Al Quran dengan jelas berbicara tentang kepemimpinan. Allah SWT berfirman : (Q.4:59) : “ Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemimpin) diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalilah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” Allah menyebut akan menjadikan “ Khalifah “ ini sangat erat kaitannya dengan kepemimpinan, begitu juga sabda Rasullullah “Setiap orang diantara kalian adalah pemimpin dan akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya”. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan diminta pertanggungjawabannya atas kepemimpinan. Dalam Kitab Injil pun disebutkan dalam Mattius 15:14 dikatakan bahwa, “ Jika seorang buta menuntun seorang buta, keduanya akan masuk ke dalam jurang.” Artinya kepemimpinan adalah menuntun dan mengarahkan ke arah yang benar. Begitu juga yang dipimpin mesti taat terhadap pemimpinnya seperti dijelaskan dalam sabda Rasul “ Siapa yang melepaskan diri dari ketaatan, niscaya ia akan menemui Allah di hari kiamat tanpa seorang pembelapun, dan siapa yang mati tanpa pernah berbai’at, maka ia mati dalam keadaan jahilliyah “. The Leader harus berpandangan jauh kedepan, berwawasan luas, menguasai perubahan, desain organisasi, pembelajaran antisipatoris, inisiatif, penguasaan interdependensi dan standar integritas yang tinggi. Semua itu harus dimulai dari memimpin diri sendiri, keluarga, kelompok, massa, rakyat hingga bangsa sehingga kepahaman akan tehnik memimpin semakin matang dan terorganisir dengan rapi. Akhlak, moral, emosi, kecerdasan adalah beberapa hal yang mesti menjadi tauladan dalam kepemimpinan. Ditengah-tengah kerumitan berbagai permasalahan, saat ini dunia sebenarnya sedang dilanda krisis yang begitu dasyat dan mematikan yaitu “krisis keteladanan”, lihatlah saat ini berbagai perang berkecamuk dibelahan dunia manapun, tanpa ada satupun yang mampu menghentikannya dikarenakan sikap egois dari negara-negara hedonisme kebaratan yang semakin hari semakin semena-mena dalam bertindak apalagi membawa nama Hak Asasi Manusia dan hukum. Krisis ekonomi, krisis pangan, krisis kehidupan semuanya berawal dari krisis kepemimpinan. Saat ini kita tidak mempunyai lagi suri tauladan yang terbaik kecuali tetap berpegang teguh dengan pedoman hidup kita yaitu Al Quran dan Hadist. Jadi sebelum kita ingin jadi pemimpin dan menduduki kursi kepemimpinan maka renungilah, ikhtiar dan mengingat Allah, bahwa sesungguhnya setelah kita menduduki kursi itu, berpikirlah, berjuanglah, bekerjalah, berusahalah untuk rakyat jika memang benar-benar kita seorang pemimpin dan seorang negarawan !

Karena kelak di akhirat kita diminta pertanggung jawaban dalam memimpin yang dipimpin, mudah-mudah bagi para Calon Legislatif, Calon Presiden, Calon Gubernur, Calon Bupati, Calon Walikota dan calon pemimpin berikutnya akan dapat memimpin dengan sebaik-baiknya umat. Amin. Allah Maha Besar.

Selamat berjuang kawan !!! semoga sukses dalam menjalankan amanah dalam mencari ridho Allah dalam bekerja.

 

(Dimediakan oleh Kabid Informasi dan Komunikasi MPC PEMUDA PANCASILA Kota Lubuklinggau-Sumatera Selatan)